Bibliography Chairul Tanjung Profil

Chairul Tanjung MBA (ejaan Soewandi: Chairul Tandjung, lahir di Jakarta, 16 Juni1962; umur 55 tahun[1]) adalah pengusaha asal Indonesia. Ia menjabat sebagai Menko Perekonomian menggantikan Hatta Rajasa sejak 19 Mei2014 hingga 20 Oktober2014. Namanya dikenal luas sebagai pengusaha sukses yang memimpin CT Corp.[2]

Chairul memulainya bisnisnya ketika ia kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia[2]. Sempat jatuh bangun, akhirnya ia sukses membangun bisnisnya.[3][4] Kini perusahaan konglomerasi miliknya CT Corp, menjadi sebuah perusahaan yang membawahi beberapa anak perusahaan seperti Trans Corp, Bank Mega, dan CT Global Resources.[3]

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Chairul Tanjung lahir di Jakarta dari pasangan Abdul Ghafar Tanjung dan Halimah. Ayahnya adalah seorang wartawan pada orde lama yang menerbitkan surat kabar beroplah kecil.[1] Sedangkan ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga. Ayah Chairul berasal dari Sibolga, Sumatera Utara, sedangkan ibunya dari Cibadak, Jawa Barat.[5] Chairul berada dalam keluarga bersama enam saudara lainya. Ketika Orde Baru, usaha ayahnya dipaksa tutup karena berseberangan secara politik dengan penguasa saat itu[1]. Keadaan ini memaksa orang tuanya menjual rumah dan mereka tinggal di kamar losmen yang sempit.[1]

Karier dan kehidupan[sunting | sunting sumber]

Selepas menyelesaikan sekolahnya di SMA Negeri 1 Jakarta pada tahun 1981, Chairul masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.[6] (lulus 1987[1]). Ketika kuliah inilah ia mulai masuk dunia bisnis dan juga mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984-1985.[1]

Demi memenuhi kebutuhan kuliah, ia berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan foto kopi di kampus. Chairul juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen, Jakarta Pusat, namun bangkrut.[3] Selepas kuliah, Chairul mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekannya pada 1987. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor[7] Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaan tersebut langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Akan tetapi karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha, Chairul memilih pisah dan mendirikan usaha sendiri.[7]

Kepiawaiannya membangun jaringan dan sebagai pengusaha, membuat bisnisnya semakin berkembang. Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti: keuangan, properti, dan multimedia. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Karman yang kini bernama Bank Mega.[3]

Ia menamakan perusahaan tersebut dengan Para Group. Perusahaan konglomerasi ini mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahkan beberapa sub-holding, yakni Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi), dan Para Inti Propertindo (properti).[1]

Di bawah Para Group, Chairul memiliki sejumlah perusahaan di bidang finansial, antara lain Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance, Bank Mega, Mega Capital Indonesia, Bank Mega Syariah, dan Mega Finance. Sementara di bidang properti dan investasi, perusahaan tersebut membawahi Para Bandung Propertindo, Para Bali Propertindo, Batam Indah Investindo, dan Mega Indah Propertindo.[8] Di bidang penyiaran dan multimedia, Para Group memiliki Trans TV, Trans7, Mahagagaya Perdana, Trans Fashion, Trans Lifestyle, dan Trans Studio.[8]

Khusus di bisnis properti, Para Group memiliki Bandung Supermall.[3] Mal seluas 3 hektar ini menghabiskan dana Rp 99 miliar. Para Group meluncurkan Bandung Supermall sebagai Central Business District pada 1999.[1] Sementara di bidang investasi, pada awal 2010 Para Group melalui anak perusahaannya, Trans Corp membeli sebagian besar saham Carefour Indonesia, yakni sejumlah 40 persen. MoU (memorandum of understanding) pembelian saham Carrefour ini ditandatangani pada tanggal 12 Maret 2010 di Perancis.[9]

Pada tahun 2010, majalah ternama Forbes menempatkan Chairul sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Ia berada di urutan ke-937 dengan total kekayaan mencapai USD 1 miliar.[10] Satu tahun kemudian, menurut Forbes, kekayaan Chairul telah meningkat lebih dari dua kali lipat, yakni dengan total kekayaan USD 2,1 miliar.[11] Tahun 2014, Chairul memiliki kekayaan sebesar USD 4 miliar dan termasuk orang terkaya nomor 375 dunia.

Pada tanggal 1 Desember2011, Chairul Tanjung meresmikan perubahan Para Grup menjadi CT Corp. CT Corp terdiri dari tiga perusahaan sub holding: Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources yang meliputi layanan finansial, media, ritel, gaya hidup, hiburan, dan sumber daya alam.[12]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]

Chairul menyatakan bahwa dalam membangun bisnis, mengembangkan jaringan adalah penting. Selain itu memiliki rekanan yang baik sangat diperlukan.[13] Membangun relasi pun bukan hanya kepada perusahaan yang sudah ternama, tetapi juga pada yang belum terkenal sekalipun. Bagi Chairul, pertemanan yang baik akan membantu proses berkembangnya bisnis yang dikerjakan. Ketika bisnis pada kondisi tidak bagus (baca: sepi pelanggan) maka jejaring bisa diandalkan. Bagi Chairul, bahkan berteman dengan petugas pengantar surat pun adalah penting[13]

Dalam hal investasi, Chairul memiliki idealisme bahwa perusahaan lokalpun bisa menjadi perusahaan yang bisa bersinergi dengan perusahaan-perusahaan multinasional.[9]. Ia tidak menutup diri untuk bekerja sama dengan perusahaan multinasional dari luar negeri. Baginya ini bukan upaya menjual negara. Akan tetapi ini merupakan upaya perusahaan nasional agar bisa berdiri sendiri dan jadi tuan rumah di negeri sendiri[9]

Menurutnya modal memang penting dalam membangun dan mengembangkan bisnis. Namun kemauan dan kerja keras, merupakan hal paling pokok yang harus dimiliki seseorang yang ingin sukses.[6] Baginya mendapatkan mitra kerja yang handal adalah segalanya. Di mana membangun kepercayaan sama halnya dengan membangun integritas. Di sinilah pentingnya berjejaring dalam menjalankan bisnis.[13]

Dalam bisnis, Chairul menyatakan bahwa generasi muda sudah seharusnya sabar, dan mau menapaki tangga usaha satu persatu.[8] Menurutnya membangun sebuah bisnis tidak seperti membalikkan telapak tangan.[8] Dibutuhkan sebuah kesabaran, dan tak pernah menyerah. Jangan sampai banyak yang mengambil jalan seketika, karena dalam dunia usaha kesabaran adalah salah satu kunci utama dalam mencuri hati pasar.[8] Membangun integritas adalah penting bagi Chairul. Adalah manusiawi ketika berusaha, seseorang ingin segera mendapatkan hasilnya. Namun tidak semua hasil bisa diterima secara langsung.[8]

Menko Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Pada 16 Mei2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung sebagai Menko Perekonomian. Ia menggantikan Hatta Rajasa yang telah resmi mengundurkan diri. "Saya telah mengambil kesimpulan untuk mengangkat saudara Chairul Tanjung sebagai Menko Perekonomian yang baru" kata SBY di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta.[14][15] Pelantikan Chairul Tanjung dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Senin, 19 Mei2014 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 2014. Hatta Rajasa mengundurkan diri karena maju menjadi calon wapres Prabowo Subianto dalam pilpres 2014 dengan dukungan dari Partai Gerindra, PAN, PKS, Golkar dan PPP.[16].

Guru Besar[sunting | sunting sumber]

Pada 18 April2015, Chairul Tanjung dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu kewirausahaan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya[17]. Pengukuhan tersebut dilakukan di ruang Garuda Mukti, Gedung Rektorat, kampus C Unair. Ia menjadi guru besar ke-438 Unair[18].

Latar belakang pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • SD Van Lith, Jakarta (1975)
  • SMP Van Lith, Jakarta (1978)
  • SMA Negeri I Boedi Oetomo, Jakarta (1981)
  • Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia (1987)
  • Executive IPPM (MBA; 1993)

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

  • Majelis Ulama Indonesia (MUI) Award 2015 [19].

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Kabinet Indonesia Bersatu II (2009–2014)

Presiden: Susilo Bambang Yudhoyono | Wakil Presiden: Boediono

  • Menko Polhukam: Djoko Suyanto
  • Menko Perekonomian: Hatta Rajasa, Chairul Tanjung
  • Menko Kesra: Agung Laksono
  • Mendagri: Gamawan Fauzi
  • Menlu: Marty Natalegawa
  • Menhan: Purnomo Yusgiantoro
  • Menkumham: Patrialis Akbar, Amir Syamsuddin
  • Menkeu: Sri Mulyani Indrawati, Agus Martowardojo, Hatta Rajasa (Plt.), Muhammad Chatib Basri
  • Menteri ESDM: Darwin Zahedy Saleh, Jero Wacik, Chairul Tanjung (Plt.)
  • Menperin: M. S. Hidayat
  • Mendag: Mari Elka Pangestu, Gita Wirjawan, Bayu Krisnamurthi (Plt.), Muhammad Lutfi
  • Mentan: Suswono
  • Menhut: Zulkifli Hasan, Chairul Tanjung (Plt.)
  • Menhub: Freddy Numberi, E.E. Mangindaan, Bambang Susantono (Plt.)
  • Menteri KP: Fadel Muhammad, Sharif Cicip Sutarjo
  • Mennakertrans: Muhaimin Iskandar, Armida Alisjahbana (Plt.)
  • Menteri PU: Djoko Kirmanto
  • Menkes: Endang Rahayu Sedyaningsih, Ali Ghufron Mukti (Plt.), Nafsiah Mboi
  • Mendikbud: Mohammad Nuh
  • Mensos: Salim Segaf Al-Jufri
  • Menag: Suryadharma Ali, Agung Laksono (Plt.), Lukman Hakim Saifuddin
  • Menparenkraf: Jero Wacik, Mari Elka Pangestu
  • Menkominfo: Tifatul Sembiring, Djoko Suyanto (Plt.)
  • Mensesneg: Sudi Silalahi
  • Menristek: Suharna Surapranata, Gusti Muhammad Hatta
  • Menkop UKM: Syarief Hasan, Muhammad Lutfi (Plt.)
  • Menteri LH: Gusti Muhammad Hatta, Balthasar Kambuaya
  • Menteri PPPA: Linda Amalia Sari
  • Menteri PANRB: E.E. Mangindaan, Azwar Abubakar
  • Menteri PDT: Helmy Faishal Zaini, Armida Alisjahbana (Plt.)
  • Menteri PPN/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana
  • Menteri BUMN: Mustafa Abubakar, Dahlan Iskan
  • Menpera: Suharso Monoarfa, Djan Faridz
  • Menpora: Andi Mallarangeng, Agung Laksono (Plt.), Roy Suryo
  • Jaksa Agung : Hendarman Supandji, Darmono (Plt.), Basrief Arief
  • Panglima TNI: Djoko Santoso, Agus Suhartono, Moeldoko
  • Kapolri: Bambang Hendarso Danuri, Timur Pradopo, Sutarman
  • Kepala UKP4: Kuntoro Mangkusubroto

Sekretaris Kabinet: Dipo Alam

Chairul Tanjung adalah salah satu orang yang terkenal sangat sukses di Indonesia. Ia di lahirkan di Jakarta sekitar 16 juni 1962 dan lahir dari keluarga dengan keadaan ekonomi yang pas-passan. Ayahnya bernama A.G Tanjung yang pada jaman Orde Lama menerbitkan surat kabar kecil. Ketika pada jaman Orde Baru, usaha ayahnya terpaksa ditutup karena menentang politik yang berkuasa pada jaman itu. Dengan itu, keluarga mereka menjual rumah dan pindah.

Sebagai pengusaha yang terkenal sukses, Ia telah menjalani bisnisnya ketika ia menghadiri Departemen Gigi dan Mulut di Universitas Indonesia. Sebagai orang yang Konglomerat, ia memiliki bisnis di beberapa perusahaan seperti Trans TV dan Bank Mega.

Setelah lulus SMA Boedi Oetomo pada tahun 1981 dan pada tahun 1987, Ia lulus di Universitas Indonesia. Sebelum lulus Universitas, Ia pernah menerima penghargaan di kampusnya sebagai “Model Nasional” pada tahun 1984 sampai 1985. Untuk memenuhi biaya kuliahnya, Ia menjual buku, kemeja serta membuka usaha foto copy di kampusnya dan sempat menjual peralatan medis di  Senen Raya Jakarta Pusat.

Setelah selesai kuliah, Chairul mendirikan subuah PT Pariarti Shindutama dengan 3 rekan-rekannya pada tahun 1987 dengan meminjam modal sebanyak Rp 150 juta dari salah satu Bank di Jakarta yang memproduksi sepatu anak-anak untuk dikirim keluar kota. Dengan usaha itu, keberuntungan berpihak kepadanya karena menerima pesanan dari Italia untuk membuat 160 ribu pasang sepatu. Karena perbedaan rencana kepada temannya, Chairul memilih untuk membangun bisnisnya sendiri.

Sebagai pengusaha yang sangat terampil, Chairul memposisikan dirinya menjadi tiga bisnis inti seperti keuangan, properti dan multimedia. Di sektor keuangan, ia mengambil alih Bank Mega yang sekarang. Selain itu, ia juga memiliki perusahaan keuangan seperti Asuransi Umum, The Multi Finance, Asuransi Mega Life, Mega Capital Indonesia Bank Mega Syariah.

Sedangkan di bidang properti dan investasi, perusahaan London Propertindo The Propertindo Bali, Batam Indah Investindo, Mega Indah Propertindo. Dan di bidang penyiaran dan multimedia seperti Trans TV, Trans 7, Mahagaya Perdana, Trans Fashion, dan Trans Studio.

Menurut Chairul, modal dalam membangun dan mengembangkan bisnis sangat peting. Baginya, kemauan dan kerja keras harus dimiliki oleh seseorang yang ingin berhasil dalam bisnis. Tapi mendapatkan mitra untuk diandalkan adalah segalanya. Baginya, juga seperti membangun kepercayaan dengan membangun integritas.

Selama masa pendidikannya

-SD Van Lith, Jakarta (1975)
-SMP Van Lith, Jakarta (1978)
-SMA Negeri Budi Utomo, Jakarta (1981)
-Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia (1987)

Kegiatan lainnya

  • Sebagai Anggota Komite Penasihat inisiatif Jakarta
  • Sebagai Delegasi Indonesia untuk Forum bisnis Asia-Eropa
  • Pernah menjadi Anggota dari Pacific Basin Economic Council
  • Pernah menjadi Pengurus Yayasan Seni Jakarta
  • Pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Asosiasi bulu tangkis seluruh Indonesia
  • Pernah menjadi Anggota Dewan Pengawas, Universitas Indonesia
  • Pernah menjadi Ketua Yayasan Forum Indonesia

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *